Laman

Kamis, 27 Agustus 2009

PENGERTIAN MERAYAKAN MAULID NABI SAW

Pada dasarnya peringatan Maulid Nabi adalah suatu aktifitas yg bertujuan untuk memperingati dan mensyukuri kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW, sedangkan syari'at cukup global dalam menjelaskan tentang sistem dan tata cara memperingatinya, sehingga dapat menimbulkan keanekaragaman dalam pelaksanaannya, sebagaimana kita ketahui didalam bentuk acaranya pada tiap-tiap Negara termasuk bumi pertiwi tercinta ini, banyak terjadi perbedaan dan perkembangan pada setiap tahunnya.
Namun demikian segala sesuatu yg dapat mendorong setiap manusia kepada hal-hal yg positif dan dapat mengumpulkan mereka pada ketaatan serta memberikan manfaat bagi agama dan kehidupan mereka, maka semua itu dapat digunakan untuk memperingati Maulid.



Oleh karena itu, termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi SAW adalah ketika kita berkumpul dalam sebuah majlis yg didalamnya dibacakan pujian-pujian untuk sang kekasih Nabi Muhammad SAW yg meliputi keutamaan, perjuangan dan kekhususan-kekhususan beliau meskipun disitu tidak dibacakan kisah tentang sejarah biografi Rasulullah SAW yg telah dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat dengan istilah "Maulid" seperti Diba', Barzanji, Al-Habsyiy dan sebagainya, sampai-sampai sebagian kalangan masyarakat menyangka bahwa Maulid Nabi SAW kurang lengkap tanpa pembacaan kitab-kitab tersebut, kemudian setelah itu kita mendengarkan ceramah, pengarahan serta nasihat dari para Ulama sekaligus ayat-ayat Al-Qur'an yg dibacakan qori'.



Pengertian, tatacara dan hukum pelaksanaan Maulid memang banyak berbeda menurut pandangan golongan umat Islam. Hal ini bisa dikatakan wajar karna peringatan Maulid itu sendiri merupakan hasil dari Ijtihad yg acap kali terjadi perbedaan para Mujtahid (pelaksana ijtihad) dalam mengolah dalil-dalil baik Al-Qur'an ataupun Hadits.



Al-Sayyid Muhammad ibn Alawiy Al-Maliky Al-Hasaniy menjelaskan bahwa tatacara pelaksanaan Maulid terbuka untuk umat menurut pemikiran, sudut pandang dan keadaan masing-masing, seperti itu juga yg terjadi pada masalah-masalah Ijtihadiyyah selain Maulid yg berjumlah puluhan bahkan ratusan masalah, termasuk diantaranya yg memasyarakat adalah tentang Al-Qur'an, semua serempak mengakui keutamaannya serta keutamaan menghafalnya dan betapa mulia mempelajari atau mengajarkannya.



Namun demikian, apakah didalamnya tersurat cara-cara tertentu yg harus dijadikan pedoman dalam menyebarkan, mempelajari dan menghafal Al-Qur'an?
Kenyataan yg terjadi sangatlah jelas sejelas matahari, sering kita jumpai madrasah-madrasah Al-Qur'an, perkumpulan-perkumpulan serta berbagai perlombaan Al-Qur'an baik qiro'ah, tilawah ataupun seni tulis kaligrafi, sering pula kita temui berbagai macam rekaman Al-Qur'an dalam bentuk kaset maupun CD dan perangkat modern yg lain seperti percetakan-percetakan mushaf yg mencetak dengan berbagai model penampilan, gaya penulisan, huruf, bentuk kertas serta ukuran yg bervariasi dan tentu saja terasa memikat saat dilihat, indah dan sejuk dimata ketika dibaca. Dan jelas bahwa semua itu belum pernah dijumpai pada masa Rasulullah SAW.



Keterangan yg ada di blog ini diharapkan bisa menjadi jembatan bagi seluruh umat Islam. Khususnya di Indonesia ini dalam menyikapi perbedaan seputar peringatan Maulid dengan tetap mempertahankan agenda besar Islam yakni terjalinnya Ukhuwwah Islamiyyah, tentu saja agar tidak menimbulkan fanatisme kelompok yg berlebihan antar sesama umat muslim yg berdampak terpecah-belahnya umat Islam seperti yg akhir-akhir ini kita rasakan.
**soulsick**

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar